Kamis, 15 Desember 2011

Tasawuf. Jawa.

 
 

Menganut tasawuf tidak berarti harus mengasingkan diri ke tempat sunyi di gua-gua atau di hutan, membenamkan diri sepenuhnya dalam ritual-ritual ibadah, salat, puasa, duduk tafakur dan wirid semalam suntuk; memperbanyak amalan sunah sampai melupakan kewajibannya selaku khalifatullah fil ardh. Melupakan tugasnya selaku wakil dan utusan Gusti Allah dalam mengelola dan mewujudkan rahmatan lil alamin bagi alam semesta dan segenap isinya, sampai-sampai tak peduli dengan kezoliman, tak peduli dengan ketidakadilan dan kemungkaran yang merajalela.

Penganut tasawuf harus dapat mengatur keseimbangan urusan dunia dan akhirat tanpa mengganggu hatinya dengan fantasi-fantasi pesona dunia. Atau juga jangan sampai hati kita terbelenggu oleh nafsu dunia, dan kemudian menutupinya dengan berlagak membuat keseimbangan sebagai dermawan yang obral hadiah atau pun sedekah. Naudzubillah. (Al-Hikam).

(Gbr : bertafakur di sungai dari koleksi pribadi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar